Apa yang menyebabkan bulan Oktober ditetapkan sebagai
bulan bahasa? Pasti Anda juga bisa menjawabnya. Ya, bulan Oktober
ditetapkan sebagai bulan bahasa karena pada 28 Oktober 1928 para
pendahulu bangsa kita mencetuskan Sumpah Pemuda dengan bahasa, bahasa
Indonesia, sebagai butir ketiganya. Belakangan, bulan Oktober tidak
disebut sebagai bulan bahasa saja, tapi bulan bahasa dan sastra. Ini
seharusnya dilakukan sejak lama. Sebab meskipun bahan dasar sastra
merupakan bahasa, kompleksitasnya kadang melampaui bahasa.
Mendadak saya memang tertarik untuk menulis hal ini setelah memerhatikan halaman “Muda” pada Kompas
Jumat, dua pekan terakhir. Setelah pada edisi Jumat, 23 November 2007
lalu membahas tentang kelas bahasa, edisi 30 November 2007 lalu membahas
sikap para siswa SMA terhadap bulan bahasa dan sastra. Edisi yang
digarap oleh siswa-siswi SMA Negeri 11 Jakarta ini malah hanya memandang
bulan Oktober sebagai bulan bahasa saja, meskipun salah satu siswa yang
berkomentar lebih merujuk kegiatan sastra pada bulan bahasa ini. Coba
perhatikan komentar berikut yang dikutip langsung dari halaman “Muda”
berikut ini.
Menurut saya, Bulan Bahasa itu wadah untuk mengembangkan bakat, tertuama pada bidang sastra, khususnya bahasa Indonesia. Sebab, bahasa Indonesia kan bahasa pemersatu negara kita.
Taufik Nur Aman (Ketua OSIS SMAN 11 Jakarta)
Demikian pula yang satu ini.
Menurut gue, Bulan Bahasa itu lebih enakan dirayain dalam bentuk lomba. Soalnya, kalau lomba kita bisa nyalurin semua bakat di bidang sastra.
Lutfhan (Ketua MPK SMAN 81 Jakarta)
Bahasa dan Sastra
Kebanyakan orang memang suka keliru menyangkut dua hal ini. Kalau sudah berstatus mahasiswa, maupun lulusan, dari Departemen Sastra Indonesia, dianggap sudah mengetahui masalah kesusastraan. Kadang-kadang juga dianggap sebagai kamus berjalan sehingga kalau berhadapan dengan kosakata tertentu, para mahasiswa dan lulusan Sastra Indonesia ini dijadikan tempat bertanya. Parahnya, tidak jarang mereka yang bertanya itu akan melecehkan (entah itu serius maupun sekadar guyon) dengan berkata, “Percuma mahasiswa/lulusan Sastra Indonesia, masa begitu saja nggak tahu.”
Kebanyakan orang memang suka keliru menyangkut dua hal ini. Kalau sudah berstatus mahasiswa, maupun lulusan, dari Departemen Sastra Indonesia, dianggap sudah mengetahui masalah kesusastraan. Kadang-kadang juga dianggap sebagai kamus berjalan sehingga kalau berhadapan dengan kosakata tertentu, para mahasiswa dan lulusan Sastra Indonesia ini dijadikan tempat bertanya. Parahnya, tidak jarang mereka yang bertanya itu akan melecehkan (entah itu serius maupun sekadar guyon) dengan berkata, “Percuma mahasiswa/lulusan Sastra Indonesia, masa begitu saja nggak tahu.”
Sebenarnya, pada Departemen Sastra Indonesia (dulu
disebut Jurusan Sastra Indonesia, setidaknya sampai sebelum saya menulis
skripsi) ada dua pembidangan. Bidang pertama itu bidang bahasa atau
yang lazim disebut linguistik. Lalu bidang kedua ialah sastra.
Baik mahasiswa sastra, maupun linguistik akan
diwajibkan mengikuti kuliah-kuliah dasar bidang masing-masing. Mahasiswa
sastra akan belajar Pengantar Linguistik Umum, Fonologi. Morfologi,
Sintaksis, Semantik, Pragmatik, dan kuliah-kuliah linguistik lainnya.
Lalu mahasiswa bidang linguistik juga harus belajar Pengantar Kajian
Sastra, Telaah Puisi, Telaah Prosa, Telaah Drama, Kritik Sastra, dan
beberapa kuliah sastra lain. Tujuannya agar masing-masing mahasiswa,
meskipun berfokus pada salah satu bidang, tetap memiliki bekal dasar
untuk mencermati fenomena sastra maupun linguistik.
Namun, terkadang mahasiswa/lulusan bidang sastra
harus memiliki kompleksitas wawasan ilmu di bidang linguistik pula.
Tujuannya, bila ia ingin melakukan kritik sastra, bekal ilmu linguistik
sering kali menolong dalam memahami pesan yang disampaikan dalam suatu
karya sastra. Atau bila ia memang ingin membuat karya sastra tertentu,
pemahaman bidang linguistik yang baik akan menolongnya menciptakan karya
yang kuat karena mengenal karakter fonem tertentu, misalnya.
Bahasa bagi Muda-Mudi
Kembali pada sikap para pelajar, laporan yang diberikan para siswa SMAN 11 Jakarta itu menunjukkan bahwa 60 dari 100 yang ditanyai, mengaku mengetahui kalau Oktober merupakan bulan bahasa. Tapi hanya 36 yang mengatakan kalau bulan bahasa itu harus atau perlu dirayakan. Dan dari pertanyaan lanjutan, responden menyebut memilih merayakan bulan bahasa itu dengan menggelar pentas seni.
Kembali pada sikap para pelajar, laporan yang diberikan para siswa SMAN 11 Jakarta itu menunjukkan bahwa 60 dari 100 yang ditanyai, mengaku mengetahui kalau Oktober merupakan bulan bahasa. Tapi hanya 36 yang mengatakan kalau bulan bahasa itu harus atau perlu dirayakan. Dan dari pertanyaan lanjutan, responden menyebut memilih merayakan bulan bahasa itu dengan menggelar pentas seni.
Hasil liputan sederhana itu ditutup dengan simpulan
bahwa perayaan bulan bahasa di beberapa SMA di Jakarta mulai surut.
Perayaan baik dalam hal bahasa maupun sastra dianggap perlu guna
menanamkan kesadaran pentingnya meningkatkan kualitas berpikir dan
menghargai bahasa sendiri.
Sesungguhnya, niat tersebut bukan niat yang buruk.
Namun, tidak ada gunanya juga kalau hanya sampai sebatas niat. Fakta
menunjukkan kalau kalangan muda lebih banyak mengembangkan bahasa gaul
ketimbang memerhatikan bahasa yang baik. Saya tidak mengatakan bahasa
yang baik dan benar karena banyak orang yang cenderung menganggap bahasa
demikian sebagai bahasa resmi, padahal tidak demikian. Memang tidak
terlalu salah juga bila berkomunikasi dengan bahasa gaul. Hanya saja,
ketika bahasa hanya sebatas menyampaikan pesan belaka, kualitas
berbahasa yang baik tidak bakal tercapai.
Bulan bahasa sebenarnya bisa dijadikan momentum untuk
meningkatkan kualitas berbahasa secara baik (dan kalau bisa benar
juga). Tapi jangan pula hanya sekadar pada bulan tersebut saja. Karena
berbahasa merupakan proses yang harus dibiasakan. Semakin terbiasa untuk
berbahasa dengan baik, semakin menolong kita untuk terus meningkatkan
kualitas berbahasa.
Sastranya Bagaimana?
Karena bulan Oktober juga tidak sekadar menjadi bulan bahasa, tapi juga sastra, kita pun sebaiknya perlu belajar untuk memberi porsi yang cukup pada bidang sastra. Masalahnya, untuk bidang ini pun kita masih ketinggalan dari negara-negara lainnya. Para siswa sekolahan perlu mengenal lebih banyak karya sastra, tidak hanya untuk melengkapi kegiatan belajar bidang studi bahasa dan sastra Indonesia saja, tetapi juga untuk menggali kekayaan moral dan intelektual yang dituangkan dalam setiap karya sastra.
Karena bulan Oktober juga tidak sekadar menjadi bulan bahasa, tapi juga sastra, kita pun sebaiknya perlu belajar untuk memberi porsi yang cukup pada bidang sastra. Masalahnya, untuk bidang ini pun kita masih ketinggalan dari negara-negara lainnya. Para siswa sekolahan perlu mengenal lebih banyak karya sastra, tidak hanya untuk melengkapi kegiatan belajar bidang studi bahasa dan sastra Indonesia saja, tetapi juga untuk menggali kekayaan moral dan intelektual yang dituangkan dalam setiap karya sastra.
Saya memang kurang menguasai bidang sastra karena
terlalu berfokus pada bidang linguistik. Namun, saya sangat bersyukur
karena belakangan diingatkan bahwa membaca karya sastra, khususnya
novel, itu sangat nikmat. Apalagi ketika menelusuri penuturan yang
disampaikan dengan bahasa yang indah. Memang harus diakui kalau ada
karya yang membingungkan. Contohnya saja Wasripin dan Satinah
karya Kuntowijoyo (Kompas 2003) sebagai salah satu yang memusingkan
saya. Tapi ada banyak pula yang sangat menyenangkan untuk dibaca dan
tidak membuat kening berkerut plus disampaikan dengan bahasa yang indah,
seperti Bunga karya Korrie Layun Rampan (Grasindo 2002), Sang Guru oleh Gerson Poyk (Grasindo 1993), atau Hari Esok Masih Panjang karya M. S. Noerna Sidharta (Grasindo 2002).
Sementara itu, puisi juga menghadirkan beragam nuansa
yang tak kalah menarik. Sama seperti ketika mulai menikmati novel,
kalau Anda tahu kenikmatannya, dijamin Anda akan menggandrungi berbagai
jenis puisi, meski mungkin akan terheran-heran karena melihat
puisi-puisi aneh, seperti karya Sutardji Calzoun Bachri atau Saut
Situmorang.
Nah, para pemuda, sudah siap melangkah lebih jauh
dari tidak peduli menjadi peduli? Atau dari sekadar berniat menelusuri
sampai menggandrungi berbahasa yang baik dan menikmati sastra? Ingatlah,
bahasa dan sastra Indonesia itu merupakan hartamu juga. Jangan sampai
diklaim oleh negara lain. Nggak lucu ‘kan?
http://indonesiasaram.wordpress.com/2007/12/03/bulan-bahasa-dan-sastra-di-mata-anak-muda/










2 komentar:
Postingnya bagus...koment balik ya
good bellafriscafrezilia.blogspot.com
kombek
Posting Komentar